Perjalanan ini adalah wujud dari pemikiran liar yang telah lama terkekang oleh tugas-tugas dan segala sesuatu tentang perkuliahan#intinyakitabutuhpencerahan. Berbekal nekad dan GPS yang baru didownlod sama tant, kamipun berangkat. .
Personil
Tante, Ejus dan saya (dari kiri-kanan)
Diawali pada tanggal 25 April 2014 sore hari di stasiun KA Purwokerto. Kami i memutuskan untuk menggunakan kereta api sebagai armada pengantar perjalanan menuju kota kembang, selain lebih murah sarana ini dinilai lebih aman, efektif dan efisien #menurutkami...
Stasiun Kiaracondong
Setelah berjam-jam menikmati kereta malam, perjalanan kamipun berakhir, Kami tiba di Kiaracondong pertengahan malam, karena perjalanan dimulai sore hari, kami belum sempat menjalankan sholat maghrib dan isya, dan hal itu adalah hal pertama yang kami lakukan pada saat tiba di Bandung. St. Kiaracondong cukup aman untuk Kami, pegawainya ramah dan tak ada orang-orang yang tergolong "aneh" dari segi moral.Karena sudah larut kami langsung mencari penginapan, kami menggunakan taxi dan menghabiskan dana 50rb dalam sekejap mata. Sesampainya dipenginapan yang berharga 200rb tersebut kami langsung isi perut dengan tahu bakso yang kami bawa dari Kota satria, setelah itu membersihkan diri dan lekas istirahat, nyiapin stamina untuk perjalanan besok, dan bertekad bangun gasik. Gasik?
Mungkin karena lelah atau?, kami bangun agak telat, langung solat sedikit berleha-leha dan pasang antrian mandi. kegiatan dilanjutkan dengan packing2 dan persiaan ketempat selanjutnya. Tempat tujuan kita untuk hari itu adalah: Gdg. Sate tentunya, Univ. Padjajaran, ITB, Bonbin, Pasar Baru, Jln. Braga, dan Msjid Agung.
misi pertama, Gdg. Sate, atas petunjuk dan dampingan dari pemilik penginapan yang baik hati, kami menggunakan angkutan umum untuk menuju ke Gdg. Sate. Hanya dengan hitungan menit kamipun sampai. Gdg. sate adalah gedung pemerintahan kota Bandung yang merupakan gedung peninggalan jaman penjajahan. Kami tak bisa menjamah lebih dekat, jadi kami hanya bisa mengambil dokumentasi dari depan.
Eksis dulu
Menyelam sambil cari mutiara, letak Gdg. Sate yang berhadapan langsung dengan Alun-alun, kami manfaatkan untuk mencari pengganjal perut yang kroncongan, kami membeli soto yang dari penampilan terlihat berantakan tapi rasanya bikin ketagihan.Setelah kenyang, Perjalananpun berlanjut ke Padjajaran, karena lokasi yang berdekatan, kami memutuskan untuk berjalan kaki, hitung-hitung olah raga, hemat dan merealisasikan program Anle*. hingga ke tempat berikutnyapun (ITB dan Bonbin) kami melanjutkan dengan berjalan kaki.
| FE Padjajaran |
![]() |
| ITB |
Masjid Salman ITB
Berikutnya ini dia edisi Bonbin![]() |
| Lion, ROAR... |

Buaya darat
Nah... pas perjalanan dari Padjajaran ke ITB, We have a little troubel, Ejus terpleset, dan meninggalkan bekas noda di celana, benar-benar anak Rins*.
![]() |
| Poor Ejus,, |
Pada saat itu, Hujan pun datang mengguyur kegersangan, sebagai anak yang taat pribahasa, kami sudah sedia panyung jauh-jauh hari sebelum hujan. Perjalanan dilanjut ke Pasar baru, berkeliling hingga lantai 4 tanpa hasil selain memori dan keinginan untuk memiliki. T-T. Dipasar yang segede itu, yang saiya dapat hanya beberapa bungkus makanan ringan,#Buatanakkost.
Jalan Braga, Kota tuanya Bandung, dinikmati dengan berfoto-foto, menyimpan memory agar lebih nyata, karena manusia itu pelupa, terutama saiya.
Suasana Malam di Masjid agung Bandung
Itulah sekilas rekam jejak kaki kita di kota kembang, menjadi kumbang liar yang mencoba mengecap manisnya nektar sang bunga, mencari kenangan manis dari sebuah perjalanan. Semuanya indah saat kita menemukan posisi yang tepat. Nikmatilah hidup agar kita sadar betapa besar ciptaan Tuhan.
Bye... Wassalam'ualaikum wr, wb




Tidak ada komentar:
Posting Komentar